Pilihan Mustahil Iran: Perang, Rezim, dan Penderitaan Warga Sipil

27

Meningkatnya konflik di Iran baru-baru ini telah menjebak rakyatnya dalam paradoks moral yang brutal. Terjebak di antara rezim teokratis yang kejam dan konsekuensi intervensi asing yang tidak dapat diprediksi, rakyat Iran menghadapi pilihan yang sulit: menerima penindasan yang berkelanjutan atau mengambil risiko kekerasan yang lebih besar. Situasinya tidak bersifat teoretis; ini adalah kenyataan sehari-hari bagi jutaan orang.

Krisis yang Sudah Ada Sebelumnya

Serangan AS-Israel dimulai pada saat masyarakat Iran masih belum pulih dari kebrutalan rezim tersebut. Pada bulan Januari, pasukan keamanan membantai pengunjuk rasa—yang diperkirakan berjumlah sekitar 30.000 orang—yang menghancurkan pemberontakan terbesar dalam sejarah Republik Islam. Kekerasan internal ini segera diperburuk dengan pemboman eksternal, sehingga menciptakan situasi di mana warga sipil menjadi sasaran baik pemerintah maupun kekuatan asing.

Sejak revolusi tahun 1979, Republik Islam telah mengobarkan perang terhadap rakyatnya sendiri, menekan perbedaan pendapat melalui kekerasan sistemik terhadap perempuan, jurnalis, kelompok minoritas, dan siapa pun yang menentang kekuasaannya. Pembantaian bulan Januari bukanlah sebuah anomali tetapi merupakan puncak dari penindasan selama beberapa dekade. Kini, rakyat Iran menghadapi serangan ganda: dari rezim yang membunuh warga negaranya sendiri dan dari kekuatan eksternal yang tindakannya menimbulkan kerugian bagi warga sipil.

Respons yang Rusak

Intervensi tersebut telah memecah belah masyarakat Iran baik di dalam maupun di luar negeri. Beberapa pihak memandang hal ini sebagai katalis penting bagi perubahan rezim, dan percaya bahwa hanya tekanan eksternal yang dapat memutus siklus penindasan. Pihak lain dengan keras menentangnya, terutama setelah serangan AS di dekat Pangkalan Angkatan Laut Minab yang menewaskan sedikitnya 175 orang, termasuk anak-anak sekolah. Insiden ini telah memperdalam perpecahan, dan banyak yang mempertanyakan apakah intervensi asing sepadan dengan jatuhnya korban sipil yang tidak dapat dihindari.

Mereka yang berada di Iran menghadapi dilema yang menyedihkan. Mereka menyadari bahwa menggulingkan rezim yang sangat termiliterisasi memerlukan lebih dari sekedar perlawanan dengan tangan kosong, namun mereka juga memahami bahwa serangan yang terus menerus berarti kehancuran yang lebih lanjut dan tidak ada jaminan keberhasilan. Situasi ini sering digambarkan sebagai pilihan antara membakar rumah yang terbakar untuk menyelamatkan penghuninya atau mengasapi rumah yang terserang sementara orang-orang tetap terjebak di dalamnya.

Kerugian Manusia

Kenyataan di lapangan sangat nyata. Tingkat bunuh diri meningkat ketika masyarakat bergulat dengan kebrutalan rezim dan kemungkinan terjadinya kekerasan lebih lanjut. Seorang perempuan muda, Bita, menceritakan ketakutannya bukan terhadap kematian itu sendiri, melainkan terhadap bagaimana rezim membunuh: “Saya tidak takut mati. Saya takut pada mereka.”

Harapan awal akan runtuhnya rezim dengan cepat telah memudar. Pemerintah, yang terpojok dan marah, membalas dengan meningkatkan penindasan. Shirin, seorang penari di Iran selatan, menggambarkan pemukulan, penangkapan sewenang-wenang, dan penutupan bisnis karena kejahatan dalam merayakan. Darurat militer telah diberlakukan di Teheran, dan internet kembali terputus, meninggalkan masyarakat dalam kegelapan—kini dengan bom yang berjatuhan di atas mereka.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan kenyataan brutal: tirai yang mengepul bukan karena angin sepoi-sepoi, tapi karena tekanan ledakan di dekatnya. Yang menarik perhatian para pengamat bukanlah jumlah korban, melainkan keberanian mereka yang terus merekam, mengirim pesan suara, dan sekadar pergi ke toko di tengah kekacauan.

Diaspora yang Terpecah

Serangan terhadap sekolah dasar dekat Pangkalan Angkatan Laut Minab semakin memecah belah diaspora Iran. Kemarahan awal atas pembunuhan tersebut dengan cepat berubah menjadi pertikaian, dengan tuduhan penghasutan perang dan permintaan maaf yang naif antara pendukung dan penentang intervensi. Persahabatan berakhir, dan ruang online menjadi medan pertempuran karena orang-orang yang dulunya bersatu demi “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” kini saling bermusuhan.

Beberapa warga Iran percaya bahwa menghentikan serangan sekarang akan membuat rezim tersebut tetap utuh dan berani. Ada pula yang berpendapat bahwa biaya yang harus dikeluarkan untuk melanjutkan peperangan terlalu tinggi dan tidak ada jaminan keberhasilan. Situasi ini digambarkan sebagai “operasi terbuka”: intervensi brutal yang mungkin menyelamatkan pasien namun meninggalkan bekas luka yang membekas.

Masa Depan yang Tidak Pasti

Rezim tidak runtuh dengan bersih. Perebutan kekuasaan internal semakin intensif, dengan kelompok garis keras berlomba-lomba untuk mendapatkan kendali. Kekhawatirannya adalah bahwa perang yang berkelanjutan hanya akan memberdayakan faksi-faksi yang paling kejam, dan memperburuk situasi. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pelukis di Teheran, “Ini sudah keterlaluan.”

Dilema etika masih tetap ada: apa yang lebih menakutkan—ketidakpastian intervensi asing atau kepastian kebrutalan Republik Islam? Tidak ada hasil yang bisa membuat rakyat Iran utuh. Satu-satunya yang pasti adalah sisa moral dari konflik ini akan bertahan selama beberapa generasi.

Ini bukan sekedar perjuangan geopolitik; ini adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi secara real time. Pilihan yang dihadapi rakyat Iran bukanlah antara yang baik dan yang jahat, namun antara dua bentuk penderitaan. Pertanyaannya bukan apakah intervensi akan berhasil, namun apakah kelangsungan hidup mungkin terjadi di negara yang terjebak antara bom dan peluru.