Pengadilan California saat ini menjadi tuan rumah persidangan yang dapat mengubah lanskap hukum bagi perusahaan teknologi. Untuk pertama kalinya di Amerika Serikat, juri mempertimbangkan apakah desain itu sendiri pada platform media sosial dapat dianggap sebagai cacat produk, bukan karena konten buatan pengguna, namun karena cara platform tersebut sengaja dibuat.
Kasus ini – K.G.M. v. Meta dan Google – merupakan titik balik dalam perdebatan mengenai tanggung jawab Big Tech, yang berpotensi menciptakan efek domino di seluruh yurisdiksi di seluruh dunia. Penggugat, seorang wanita berusia 20 tahun, menuduh bahwa platform seperti Instagram dan YouTube dengan sengaja merekayasa fitur-fitur adiktif yang memicu depresi, kecemasan, dismorfia tubuh, dan pikiran untuk bunuh diri. TikTok dan Snapchat menyelesaikannya sebelum persidangan, meninggalkan Meta dan Google sebagai terdakwa yang tersisa.
Pergeseran Hukum Inti: Desain sebagai Cacat
Selama beberapa dekade, Pasal 230 Undang-Undang Kepatutan Komunikasi sebagian besar telah melindungi perusahaan teknologi dari tanggung jawab atas konten yang diposting oleh pengguna. Namun, tuntutan hukum ini mengabaikan perlindungan tersebut dengan membingkai kerugian yang bukan berasal dari konten pengguna, namun dari pilihan desain platform itu sendiri: pengguliran tanpa batas, rekomendasi algoritmik, imbalan yang tidak dapat diprediksi, dan putar otomatis.
Penggugat berpendapat bahwa fitur-fitur ini beroperasi dengan prinsip perilaku yang sama seperti mesin slot, dengan sengaja mengeksploitasi psikologi manusia. Pendekatan ini memperlakukan desain algoritmik sebagai keputusan produk, yang tunduk pada kewajiban keselamatan yang sama seperti barang manufaktur lainnya. Pengadilan telah membiarkan alur pemikiran ini dilanjutkan, sebuah keputusan penting yang memiliki implikasi luas.
Apa yang Diketahui Perusahaan: Dokumen Internal Dalam Pengawasan
Elemen penting dari kasus ini terletak pada apa yang Meta dan Google ketahui tentang potensi bahaya dari desain mereka. Kebocoran “Facebook Papers” pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa peneliti perusahaan tersebut menyatakan kekhawatiran tentang dampak negatif Instagram terhadap citra tubuh dan kesehatan mental remaja. Komunikasi internal, yang kini dipresentasikan di pengadilan, dilaporkan membandingkan mekanisme kecanduan platform tersebut dengan penjualan narkoba dan perjudian.
Jika juri menemukan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut sadar akan risiko-risiko ini namun tetap memprioritaskan keterlibatan dibandingkan kesejahteraan pengguna, maka hal ini dapat menimbulkan kelalaian dan membuka jalan bagi sanksi finansial yang signifikan. Pengacara utama penggugat, Mark Lanier, sebelumnya telah mendapatkan putusan bernilai miliaran dolar terhadap Johnson & Johnson, yang menandakan besarnya akuntabilitas yang diupayakan.
Ilmu di Balik Kecanduan: Kompleks namun Konsekuensi
Meskipun perdebatan ilmiah mengenai kecanduan media sosial masih rumit, standar hukum berfokus pada kemungkinan untuk memperkirakannya. Pertanyaannya bukan apakah media sosial memberikan dampak buruk yang sama kepada semua orang, namun apakah perancang platform mempunyai kewajiban untuk memperhitungkan risiko yang dihadapi oleh pengguna muda yang rentan, terutama mengingat bukti internal yang menunjukkan bahwa mereka sadar akan risiko tersebut.
Para peneliti menemukan bahwa pilihan desain platform dapat memperburuk masalah kesehatan mental pada populasi tertentu. Jika juri memutuskan bahwa Meta dan Google gagal melakukan kehati-hatian yang wajar dalam merancang produk mereka, kasus ini dapat menjadi preseden untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan teknologi atas kerugian yang dapat diperkirakan.
Implikasi yang Lebih Luas: Pergeseran Lanskap Hukum dan Kebijakan
Sekalipun ilmu pengetahuan masih belum terselesaikan, lanskap hukum dan kebijakan berubah dengan cepat. Pada tahun 2025 saja, 20 negara bagian AS memberlakukan undang-undang baru yang mengatur penggunaan media sosial oleh anak-anak, dan undang-undang serupa mulai mendapat perhatian secara global.
Sidang K.G.M. lebih dari satu kasus; ini mewakili perubahan mendasar dalam cara pandang desain algoritmik. Jika kerangka untuk meminta pertanggungjawaban platform atas pilihan desain mereka berlaku, setiap perusahaan teknologi perlu menilai kembali tidak hanya konten apa yang muncul di platform mereka, tetapi juga mengapa dan bagaimana konten tersebut disampaikan.
Uji coba ini berpotensi mendefinisikan kembali hubungan antara Big Tech dan penggunanya, sehingga memaksa perusahaan untuk memprioritaskan keselamatan dan akuntabilitas dibandingkan keterlibatan dengan cara apa pun.
